Kunjungan

 

  • Overview
  • Jadual Perjalanan
 

Tur Camilan Dua Hari ke Tainan

Saat mengunjungi Tainan, pengunjung dapat menyaksikan dan menikmati banyak peninggalan sejarah di kota tua ini, seperti situs-situs: Menara Chihkan, Kuil Resmi Dewa Perang, Kuil Mazu, Kuil Kong Hucu, Tempat Pemujaan Koxinga, Kuil SanShan Guowang, Kuil Kaiyuan, Benteng Tua Anping dan Benteng Abadi. Tempat-tempat ini membuat turis dapat menikmati suasana amsa lalu. Turis juga akan memiliki banyak kesempatan untuk memuaskan selera makan mereka. Tainan terkenal memiliki banyak camilan yang terkenal. Sebagai contoh adalah roti lapis yang bentuknya mirip peti mati yang disebut dengan “papan peti mati”, mie daging babi direbus diciptakan oleh oleh nelayan untuk memudahkan hidup mereka sepanjang musim memancing; "tempelan kuali”, adonan beras yang dibuat menjadi kue dadar pembut dengan cara menempelkannya ke sisi kuali yang sudah dipanaskan, sebelum dimasak ke dalam sup kental. Makanan ringan lainnya termasuk kue beras ketan, puding beras gurih, mie belut, bakso Taiwan, sup kental Ikan todak, kue beras ketan, sup ikan mengambang, pangsit piramida, dan bubur ikan, semua tersedia di Pasar Malam Xiaobei Road dan China Town. Pada malam hari pengunjung dapat berjalan-jalan di seputar kampus Guangfu National Cheng Kung University untuk menikmati malam hening di selatan Taiwan. Mereka juga bisa pergi berbelanja dan membeli hadiah untuk teman atau keluarga di Toserba Far Eastern di dekat Jalan Zhongzheng atau pasar malam di Jalan Minsheng.

Kuil Resmi Dewa Perang (Kuil Bela Diri Ritual Pengorbanan) > Tempat Pemujaan Koxinga

Kuil Resmi Dewa Perang (Kuil Bela Diri Ritual Pengorbanan)

Bersama dengan Kuil Khong Hucu, kuil ini dikenal sebagai kuil tertua dan yang paling dilestarikan di Taiwan. Tidak ada yang tahu kapan pastinya kuil ini dibandun , namun menurut legenda kurang lebih dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Yungli dari Dinasti Ming, sekitar pertengahan abad 17. Ritual pemberian kurban kepada Dewa Perang mulai dilakukan oleh para pejabat pemerintahan pada periode Dinasti Qing. Dewa Perang (Guandi atau Guangong) yang dipuja di sini terlihat memegang pedang berat dan menunggang seekor kuda cepat. Asal muasal sebenarnya dia adalah jenderal dari masa akhir Dinasti Han (awal abad 3) yang berkat perbuatannya, menjadi simboll kebenaran dan kesetiaan bagi generasi penerusnya, sehingga kemudian didewakan. Dia dikisahkan sangat mahir dalam bidang mengelola keuangan dan menemukan metode akunting, sehingga ia juga dipuja (terutama oleh para pebisnis), sebagai Dewa Perdagangan. Pintu masuk ke kuil ini khusus dipagari dengan dinding tinggi karena satu alasan tertentu. Di masa lampau, wanita tidak boleh masuk ke dalam kuil, sehingga kuil atau kelentang sengaja di desain dengan pagar tinggi agar wanita tidak masuk ke dalam.



Tempat Pemujaan Koxinga

Tempat pemujaan Guoxingye (Kuil YanpingJunwang ), terletak di Jalan Kaishan yang dikelilingi dengan pepohonan dan merupakan satu-satunya tempat pemujaan bergaya Hokkian di Taiwan. Kuil pemujaan ini dibangun untuk mengenang sumbangsih dan pencapaian dari Cheng Cheng Kung, pelopor di Taiwan. Cheng Cheng Kung semula dikenal dengan nama Cheng Sun, seorang yang berasal dari Fujian. Ayahnya Cheng Chi Lung, di masa mudanya adalah seorang pengelana. Dia seorang pedagang sekaligus bajak laut. Ibunya adalah wanita dari Jepang bernama Tagawa. Cheng dilahirkan dengan tingkat kecerdasan tinggi. Tak hanya gigih dalam belajar, dia juga memiliki ambisi yang besar untuk mencapai satu hal yang besar, misalnya menjadi seseorang yang berpendidikan tinggi namun juga mahir dalam ilmu perang. Pada saat dia berumur 21 tahun, Wu San Kwei nenunoub oasyjab Qubg je Tiongkok dan menumbangkan Dinasti Ming. Sebagai akibatnya ayahnya menyerah pada DInasti Qing sementara ibunya bunuh diri. Cheng Cheng Kung mengalami banyak penderitaan dan memutuskan dia harus mengalahkan DInasti Qing agar dapat mengembalikan kekuasaan Dinasti Ming sehingga dia bisa menghapus aib ayahnya yang menjadi pengkhianat negara. Pada April, tahun ke 15 pemerintahan Kaisar Yung Li (1661 SM.), dia memimpin pasukannya menyeberangi Selat Taiwan dan setelah melakukan pertempuran selama 9 bulan, pada akhirnya berhasil merebut Taiwan dari tangan Belanda. Sejak saat itu Taiwan tidak lagi menjadi koloni Belanda. Setelah berhasil mendapatkan akses ke Taiwan, Cheng dengan segera membangun seluruh daerah dengan menetapkan lokasi kantor pemerintahan, regulasi, sistem pendidikans erta membangun lebih banyak tanah pertanian untuk meningkatkan tingkat hidup masyarakat setempat. Dia juga aktif memberikan latihan militer kepada penduduk setempat untuk menyiapkan mereka melawan Pasukan Qing. Sayangnya, hanya setengah tahun setelah dia berhasil merebut kembali Taiwan, Cheng meninggal karena sakit pada tanggal 8 Mei, di tahun ke 16 masa berkuasa Kaisar Yung Li dari Dinasti Ming. Cita-citanya untuk menghidupkan kembali Dinasti Ming tidak tercapai dan itulah yang menjadi penyesalan terbesar sepanjang hidupnya. Pada tahun ke 13 pemerintahan Kaisar Tong Chi dari Dinasti Qing (1874 SM), utusan khusus Kaisar Shen Bao Chen memerintahkan pelebaran dari tempat pemujaan Kai Shan Wang yang sudah ada untuk mengenang jasa Cheng Cheng Kung. Permintaan ini disetujui oleh rezim tersebut dan tempat pemujaan yang terbaru secara resmi diberi nama “Tempat Pemujaan Guoxingye " di mana rakyat setempat dapat memberikan penghormatan pada pahlawan rakyat ini. Di dalam tempat pemujaan Guoxingye terdapat Aula Budaya Rakyat Tainan (Tainan Folk Cultural Hall) yang memamerkan berbagai kebudayaan bersejarah di Tainan. Lantai pertama memamerkan peninggalan dan hasil penggalian pra sejarah. Selain menggambarkan kaitan geografis antara Taiwan dan Daratan Tiongkok , juga menggambarkan evolusi dari kehidupan di masa lalu hingga masa sekarang. Pameran di lantai dua kebanyakan merupakan bahan-bahan sejarah tentang Tainan. Termasuk di antaranya meteri dan hal-hal yang terkait dengan nenek moyang seperti foto Cheng Cheng Kung dan Shen Bao Chen, juga pekerjaan dan karya mereka. Sebagai tambahan, terdapat hal-hal sehari-hari dari kota Tainan seperti papan tanda di jalan, alat-alat perlengkapan kamar tidur, sertifikat tanah, dan uang kertas juga dipamerkan kepada umum agar mereka dapat memahami kehidupan sehari-hari dari generasi masa lalu. Tempat ini adalah situs budaya yang pantas untuk dikunjungi.



Benteng Anping > Benteng Abadi

Benteng Anping

Pemerintah Belanda membangun banteng pertama di Anping, Taiwan pada 1624, yang dikenal sebagai "Fort Zeelandia", kini dikenal sebagai Benteng Anping, yang pernah menjadi pusat administrasi rezim Belanda dan kantor penghubung perdagangan. Bangunan ini semula dibangun sebagai banteng yang bagian dalamnya berbentuk empat persegi dan dikelilingi dinding berbentuk persegi panjang. Pada 1661, banteng ini namanya diubah menjadi Anping untuk memperingati kampung halaman dari Guoxingye (Cheng Cheng-Kung) ketika dia berhasil mengusir Belanda dari Taiwan. Oleh karena itu Benteng Zeelandia juga dikenal sebagai “Benteng Raja” atau “Benteng Taiwan” dengan julukan Benteng Anping. Pada masa rezim Kaisar Kangxidari Dinasti Qing Dynasty, Taiwan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan dimana pusat kekuatan politis dipindahkan ke kota Tainan, sehingga mengakibatkan Benteng ini menjadi tak terurus. Bata merah dari benteng ini diambil untuk pembangunan Benteng Abadi (Eternal Fortress). Selama masa pendudukan Jepang, bangunan bergaya Belanda di bagian dalam benteng sepenuhnya dihancurkan. Sebuah platform dengan anak tangga bata merah dibangun bersama dengan rumah gaya Barat di atas platform, yang berfungsi sebagai bagi para pejabat Bea Cukai, di mana ruang memorial sekarang berada. Bangunan ini diberi nama Benteng Anping setelah Restorasi Taiwan, dan telah didaftarkan menjadi replika sejarah kelas satu dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Dinding selatan yang masih tersisa sepanjang lebih dari 70 meter dari luar benteng yang dibangun dengan batu bata merah usang, serta akar-akar pohon beringin tua, laksana melantunkan sebuah kisah perjalanan dari benteng yang telah menjadi replika sejarah selama lebih tiga ratus tahun.



Benteng Abadi (Eternal Fortress)

Eternal Golden Castle atau Benteng Kencana Abadi di masa kuno disebut dengan nama "Benteng Besar Anping” atau "Benteng Dua Kali Panjang Ikan”, dibangun untuk menahan pasukan Jepang yang menginvasi Taiwan karena Peristiwa Peony Suffix. Ketika ShernBao-Tzen pertama tiba di Anping pada tahun 1874, ia percaya bahwa Benteng Besar harus dibangun untuk melindungi kota, oleh karena itu, yang benteng bergaya barat pertama itu akhirnya selesai pada tahun 1876, yang dirancang oleh insinyur Perancis. Inilah pelabuhan pertama yang dilengkapi dengan British Armstrong Cannon di Taiwan. Selain itu juga merupakan langkah besar menuju modernisasi pertahanan penjaga pantai militer Taiwan. Bentuk konstruksi bangunan Kastil Kencana Abdi berbentuk benteng persegi empat yang termasuk kategori Kastil Berbentuk Wajik ala Barat, dengan empat empat sudut yang menonjol, dengan bagian pusat yang menceruk ke dalam. Di sekitar benteng terdapat gorong-gorong dan meriam besar kecil yang ditempatkan di sekitar benteng, sedangkan pusat pelabuhan digunakan sebagai lapangan latihan, bentuknya terintegritas dan lengkap, skalanya besar, dan didukung dengan benteng yang kuat, Kastil Kencana Abadi dapat dilihat sebagai tonggak penting pembuatan semua benteng di seluruh Taiwan. Benteng hancur di kemudian hari, dan sekali diabaikan, tetapi kemudian ditetapkan sebagai salah satu situs penting di kota itu dan kembali direstorasi dengan seksama. Setelah restorasi, benteng ini mengalami rekonstruksi besar sehingga bentuknya sekarang kurang lebih sama seperti semula. Setelah rekonstruksi, skala asli secara umum dapat dilihat. Saat ini, Kastil Kencana Abadi menduduki peringkat pertama tempat bersejarah, dinding luarnya tinggi sekitar dua meter, dengan gorong-gorong di sekitar dinding benteng, pohon dan hutan yang tumbuh lebat, gerbang melengkung dari bata setinggi 5 meter berdiri di sana, dan saat melewati gerbang benteng melengkung itu, ANda dapat melihat hamparan rumput hijau yang datar dan luas. Terdapat pula patung kuningan peringatan ShernBao-Tzen dan tiruan meriam kuno.

HUBUNGI KAMI

Suite 25.01, Level 25 Wisma Goldhill, 67 Jalan Raja Chulan, 50200, Kuala Lumpur, Malaysia.

Tel :+603-20706789 | Fax :+603-20723559 Email : tbrockl@taiwan.net.my

Waktu pejabat: Isnin - Jumaat 0900 - 1730 (* Hari cuti umum tutup)

Download Tour Taiwan App


Langgan newsletter kami!

Please wait

Main menu id-ID